Ninjakabut.com, Ledakan Mortir di Bandung Barat merenggut nyawa tiga orang pada Rabu (8/7/2026) pagi. Insiden di Kampung Ciparang, Desa Cipatat, menewaskan Ade (21), Suhri (51), dan Rodiana (40) setelah proyektil tank meledak di samping rumah salah satu korban sekitar pukul 10.30 WIB.
Kronologi dan Evakuasi Korban
Saksi bernama Dadang mengetahui kejadian ini pertama kali. Dadang, yang merupakan personel kepolisian setempat, mendengar suara ledakan keras di RT 004 RW 007. Ia segera menuju lokasi dan melihat kondisi para korban yang tergeletak dengan luka parah. Warga bernama Narya menyampaikan informasi jatuhnya korban tersebut kepada Dadang.
Sejumlah warga bersama kepolisian segera merespons tempat kejadian. Namun, tim harus menjalankan proses evakuasi korban ledakan secara hati-hati. Mereka mencurigai adanya sisa amunisi lain yang belum meledak di sekitar lokasi. Warga menemukan Ade dan Suhri dalam keadaan tewas dengan luka berat pada bagian wajah, leher, serta dada. Warga mengevakuasi Rodiana ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Kepala Polsek Cipatat Komisaris DMS Andriani mengonfirmasi bahwa Rodiana meninggal dunia pada pukul 17.25 WIB setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Dustira. Para korban bekerja sebagai buruh lepas harian. Tim menemukan jenis peluru tank di lokasi kejadian.
LINK PHOTO :
Penelusuran Penyebab Ledakan Mortir di Bandung
Pihak kepolisian masih mendalami asal usul amunisi tersebut. Dugaan sementara, benda berbahaya itu berasal dari area Pusat Pendidikan Infanteri Cipatat yang berada di bawah naungan Kodiklatad TNI Angkatan Darat. Area pendidikan militer ini terletak di wilayah tersebut.
Menurut keterangan saksi dan pihak kepolisian, para korban kerap memungut selongsong serta proyektil bekas latihan militer di kawasan Pusdik Infanteri. Meski pihak TNI sudah melarang keras, warga masih melakukan aktivitas memulung benda-benda tersebut demi nilai ekonomis. Saksi bernama Narya membenarkan bahwa warga memang sering mencari selongsong peluru bekas latihan, namun mereka biasanya tidak mengambil mortir bekas.
Aktivitas mengumpulkan ledakan amunisi bekas latihan menjadi risiko besar yang harus ditanggung warga. Polisi menegaskan bahwa temuan di lokasi menunjukkan risiko tinggi dari barang-barang yang warga pungut tersebut. Proyektil tank yang meledak ini menjadi bukti nyata bahaya yang mengintai warga saat berinteraksi dengan benda sisa latihan militer tanpa prosedur keamanan yang memadai.
Catatan Insiden Serupa di Indonesia
Peristiwa di Cipatat ini merupakan kejadian kedua terkait ledakan bahan peledak yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Sebelumnya, insiden serupa terjadi di Kompleks Perumahan Perikanan, Kelurahan Fandoi, Kabupaten Biak, Papua, pada 31 Mei 2026.
Keberadaan bahan peledak sisa perang dunia II di wilayah tersebut memicu situasi di Biak. Dampak dari ledakan di Biak tergolong sangat masif, menyebabkan kerusakan serius pada empat bangunan di sekitar pusat ledakan. Data menunjukkan enam orang meninggal dunia hingga 2 Juni 2026 akibat insiden tersebut. Kejadian beruntun di dua wilayah berbeda ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak mendekati atau mengumpulkan benda-benda mencurigakan yang diduga merupakan amunisi atau bahan peledak demi alasan keselamatan.
Berita Piala Dunia 2026 : 433Livescores
Baca Juga :